Selasa, 30 Oktober 2012

TELAGA WARNA



Z
aman dahulu kala ada sebuah kerajaan yang tenteram dan damai, bernama Kutatangggeuhan. Rajanya yang adil bijaksana bernama Prabu Suwarnalaya. Beliau memerintah kerajaan didampingi oleh permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Karena kebijaksanaan sang Raja dan karena anugerah Yang Maha Pengasih dan Penyayang dalam bentuk tanah yang subur, kerajaan pun sangatlah makmur. Tak ada warga kerajaan yang kekurangan dalam hal sandang, pangan, maupun papan. Semuanya serba berkecukupan. 

Namun, baik Raja maupun Permaisuri dan bahkan rakyat, merasa ada sesuatu yang kurang. Raja dan Permaisuri belum dianugerahi seorang putra ataupun putri walaupun mereka sudah cukup lama menikah. Itulah sebabnya sang Raja sering termenung dan Permaisuri berurai air mata. Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk penggunaan ramuan-ramuan yang dimakan baik oleh sang Raja maupun Sang Permaisuri. Sejumlah besar dukun telah diundang untuk membacakan mantra-mantra. Akan tetapi, semua upaya itu tampaknya sia-sia belaka.
Beberapa rakyat di kerajaan pernah menyarankan usul yang bijaksana kepada Raja dan Permaisuri. “Gusti Raja dan Gusti Ratu, mengapa tidak memungut anak yatim piatu saja? Di kerajaan banyak anak yatim piatu, diantaranya putra-putri prajurit dan perwira kerajaan yang gugur mempertahankan kerajaan,” kata mereka. Akan tetapi, Raja dan Permaisuri tidak mau mendengar usul itu. Anak pungut berbeda dengan anak sendiri, kata beliau satu sama lain.
Ketika kesedihan sudah tidak tertahankan, sang Raja memutuskan untuk bertapa. Lalu, bertapalah beliau di tempat sunyi di dalam hutan. Berminggu-minggu beliau bertapa hingga pada suatu ketika, antara sadar dan tidak beliau mendengar suara, “Hai Prabu Suwarnalaya, apakah yang Anda inginkan hingga Anda bertapa?” “Hamba menginginkan anak,” ujar sang Raja.”Bukankah Anda dapat memungut anak yatim piatu?” kata suara itu pula. “Hamba menginginkan anak sendiri, darah daging sendiri, “ujar Raja pula. “Jadi Anda hanya menginginkan anak sendiri ?” sahut suara itu lagi. “Ya, bagaimananapun keadaannya, anak sendiri lebih baik daripada anak pungut,” jawab sang Raja.” Baiklah kalau begitu, sekarang pulanglah,” kata suara itu. Maka sang Raja pun pulang.
Beberapa waktu setelah peristiwa itu, sang Permaisuri pun hamil. Seluruh kerajaan pun bersuka ria. Banyak warga kerajaan mengirim berbagai hadiah kepada raja dan ratu mereka sebagai ungkapan kegembiraan itu. Setelah saatnya tiba, sang Permaisuri pun melahirkan seorang bayi putri. Kelahiran sang Putri disambut dengan pesta tujuh hari tujuh malam. Sang Putri diberi nama Putri Gilang Rinukmi. Sekali lagi warga kerajaan mengirimkan berbagai hadiah yang mahal-mahal bagi sang Putri.
Semakin besar sang Putri semakin cantik pula. Sementara itu, sebagai anak satu-satunya dan sangat diinginkan kehadirannya oleh kedua orang tua mereka dan oleh rakyat, sang Putri sangatlah dimanjakan. Akibatnya, sang Putri jadi remaja putri yang berperangai buruk. Segala keinginannya harus dituruti. Kalau sekali ditentang, ia suka uring-uringan. Ia pun suka memerintah pelayan istana seakan-akan ia sendiri raja atau ratu. Kalau tidak setuju dengan pelayanan mereka, biasanya ia marah.              Tak jarang ia bertindak kasar dan mempergunakan kata-kata yang tak layak keluar dari mulut seorang putri.
Walaupun begitu, Raja, Permaisuri, dan rakyat tetap mencintainya. Apalagi semakin dewasa sang Putri semakin cantik pula. Pada usia tujuh belas tahun, tidak ada putri lain atau gadis di kerajaan yang menandingi kecantikannya. Pada usia itu pula, ketika sang Putri menginjak usia dewasa, rakyat mengumpulkan kekayaan mereka untuk dapat memberikan hadiah kepadanya. Dari berbagai pelosok kerajaan datang sumbangan-sumbangan berupa berbagai barang berharga seperti uang emas, perhiasan-perhiasan, dan permata. Barang-barang berharga itu kemudian disampaikan kepada Raja. Raja berterima kasih kepada rakyatnya dan menyatakan kegembiraannya melihat kecintaan rakyat kepada putrinya. Walaupun begitu beliau tidak mengambil semua hadiah itu. Beliau mengusulkan agar barang-barang berharga disimpan di perbendaharaan negara sebagai milik umum yang dapat dipergunakan setiap saat diperlukan untuk kepentingan umum. Untuk sang Putri, beliau hanya mengambil beberapa perhiasan emas dan permata. Perhiasan ini beliau serahkan kepada tukang emas untuk dibuat menjadi perhiasan baru yang lebih besar dan lebih indah. Dengan senang hati seorang empu yang sangat pandai membuat perhiasan menciptakan sebuah kalung yang sangat indah. Kalung itu menggambarkan tanaman dengan daun-daun dari emas dan perak, serta bunga-bunga dan buah-buahannya dari permata yang berwarna-warni. Tak ada perhiasan seindah kalung itu dimana dan kapan pun di dunia karena tidak ada rakyat yang pernah mencintai putri raja mereka seperti warga Kerajaan Kutatanggeuhan.
Seluruh warga kerajaan benar-benar menunggu saat penyerahan kalung itu kepada sang Putri yang ketujuh belas. Berkumpullah warga Kutatanggeuhan di halaman istana. Mereka memandang ke arah anjungan, tempat Raja dan keluarga istana akan hadir. Tak lama kemudian Raja dengan diiringi Permaisuri dan para bangsawan pun keluarlah dari dalam istana. Raja melambaikan tangan kepada rakyatnya dan disambut sorak-sorai gembira oleh mereka. Sorak-sorai membahana kembali ketika Putri Gilang Rinukmi muncul diiringi belasan orang inang pengasuh. Sang puti cantik bagaikan bidadari. Begitu cantiknya sang Putri hingga orang-orang terpesona dan berhenti bersorak-sorai. Dalam keheningan itu sang Raja berkata, “Warga Kutatanggeuhan yang baik, sebelum upacara selamatan untuk menyambut usia tujuh belas tahun anakku, saya akan menyampaikan hadiah kalian untuk Putri Gilang Rinukmi. Biarlah Tuan Putri tahu betapa besar cinta kalian kepadanya.”Mendengar itu rakyat pun bersorak-sorai kembali. Setelah semua tenang kemudian sang Raja membuka kotak berukir yang dibuat dari kayu cendana, lalu mengeluarkan kalung buatan dari Empu. “Anakku Gilang Rinukmi, ini adalah hadiah dari warga kerajaan sebagai ungkapan kegembiraan mereka karena kau sudah menginjak dewasa. Kalung ini adalah ungkapan kasih sayang mereka kepadamu. Pakailah supaya mereka melihat bahwa kau menerimanya dengan gembira.”Sang Putri menerima kalung itu, lalu melihat-lihatnya sejenak. “Jelek sekali. Saya tak suka,”katanya seraya melemparkan kalung itu ke muka sang Raja. Kalung itu putus bercerai berai. Semua hadirin membisu menyaksikan peristiwa itu. Tak ada yang bergerak atau dapat berkata. Semua seperti membeku.
Di dalam keheningan itu terdengarlah Permaisuri menangis. Air mata beliau berderai membasahi wajah beliau yang sedih. Rakyat banyak mulai menangis pula, terutama kaum wanita. Pada saat yang sama, suatu keajaiban terjadi. Dari dalam bumi keluarlah air jernih, seakan-akan bumi pun ikut menangis. Air itu keluar dari mata air yang besar dan dalam waktu sekejap telah membentuk sebuah danau. Danau itu semakin luas dan akhirnya menenggelamkan Kerajaan Kutatanggeuhan dengan segala isinya.
Danau itu sekarang sudah surut airnya, yang tertinggal hanya sebuah danau kecil yang ada di tengah-tengah hutan di daerah Puncak, Jawa Barat. Nama danau itu adalah Telaga Warna. Kalau hari terang air telaga yang jernih itu berwarna-warni dengan indahnya. Keindahan yang penuh warna itu adalah bayangan hutan di sekeliling telaga dan langit biru di atasnya. Ada orang yang mengatakan bahwa warna-warni itu datang dari permata yang bercerai-berai dari kalung Putri Gilang Rinukmi dari Kerajaan Kutatanggeuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar