Selasa, 30 Oktober 2012

DEWI NAWANG WULAN



 Alkisah di pinggiran sebuah desa hiduplah seorang janda yang disebut Nyi Randa Tarub. Sebenarnya dia tidak bernama demikian, sebagaimana kebiasaan masyarakat Jawa, karena ia tinggal di Desa Tarub dan orang tak tahu namanya maka ia disebut dengan nama desa dimana dia tinggal. Nyi Randa Tarub mempunyai seorang putera yang dipanggil pula dengan nama JAKA TARUB.
Menurut riwayatnya, Jaka Tarub bukanlah anak kandung janda itu. Dia adalah anak dari seorang putri Bupati Tuban yang bernama Dewi Rasawulan. Jaka Tarub diasuh oleh Nyi Randa Tarub sejak masih bayi, dan memang dia tak mempunyai seorang anak pun dari ketika suaminya masih ada hingga meninggal dunia.

Setelah meningkat dewasa, Jaka Tarub telah tumbuh menjadi seorang pemuda tampan. Ia gemar sekali berburu binatang dengan menggunakan sumpitan.
Hari itu seperti biasanya, pagi-pagi sekali Jaka Tarub sudah berjalan menyusuri hutan dimana dia sering berburu. Namun sampai setengah harian Jaka Tarub menjelajahi hutan, tak seekorpun hewan buruan tampak.
Ketika Jaka Tarub duduk melepaskan lelah, rasa kecewa telah membuatnya letih. Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara beberapa wanita. Dengan ragu-ragu Jaka Tarub beranjak berdiri dan melangkah mencari arah datangnya suara itu.
Dan akhirnya Jaka Tarub menjadi tertegun melihat apa yang ada di hadapannya. Empat orang gadis tengah mandi di sebuah telaga kecil yang terdapat di tengah hutan itu. Jaka Tarub keheranan melihat semua itu.
“Semua gadis-gadis itu cantik. Apakah peri penunggu hutan? Ataukah mereka bidadari yang turun dari kahyangan? Mungkin juga!” pikir Jaka Tarub.
Pemuda itu terus memperhatikan gadis-gadis yang tengah asyik mandi di air telaga. Tiba-tiba matanya melihat onggokan pakaian yang terletak di tepi telaga. Di dalam benaknya timbul keinginan untuk menyembunyikan pakaian itu.
Sebenarnya Jaka Tarub sendiri tak tahu, punya maksud apa dirinya berbuat demikian? Pikiran nakal itu tiba-tiba saja muncul di otaknya. Dengan mengendap-endap ia mengambil salah satu dari onggokan pakaian itu.
“Adik-adik, hari segera gelap. Mari kita kembali ke kahyangan!” kata salah satu gadis itu yang tak sadar bahwa seperangkat pakaian mereka telah dicuri orang.
Jaka Tarub yang mendengar ucapan mereka itu menjadi yakin dengan dugaannya, bahwa mereka itu adalah para bidadari.
Para bidadari itu segera berpakaian dan bersiap-siap akan kembali ke kahyangan. Tapi salah seorang diantaranya yang merasa kehilangan pakaiannya menjadi panik.
“Hilang? Bagaimana mungkin? Ayo kita cari!” kata bidadari yang lain. Dengan segera ketiga bidadari itu ikut mencarikan pakaian yang hilang itu. Sementara Jaka Tarub memperhatikan kebingungan keempat putri cantik itu dari balik semak-semak.
Hingga akhirnya. “Oh ...... hari sudah demikian sore. Kita tak dapat tinggal lebih lama lagi di mayapada. Kita harus cepat-cepat kembali!” kata salah satu bidadari itu.
“Tapi ...... bagaimana dengan diriku?” tanya Nawang Wulan, bidadari yang telah kehilangan pakaiannya. “Kami tak dapat berbuat apapun, Adik ...... kau terpaksa kami tinggalkan.”
Tubuh ketiga bidadari itu melambung ke angkasa, meninggalkan seorang temannya yang meratap kebingungan. Jerit dan rintihan Nawang Wulan tak dihiraukan oleh ketiga temannya yang terus melayang ke angkasa hingga lenyap di balik awan.
Nawang Wulan hanya bisa menangis menyesali nasibnya, dan kemudian muncullah Jaka Tarub mendekatinya. Betapa terkejutnya Nawang Wulan melihat kehadiran Jaka Tarub. Tapi  akhirnya dengan terpaksa menceritakan apa yang sudah terjadi, yang sebenarnya sudah tak perlu lagi bagi Jaka Tarub, karena semuanya telah disaksikan oleh pemuda itu.
“Oh, sungguh malang nasibmu ..... aku bermaksud menolongmu, kalau kau menerimanya,” kata Jaka Tarub. Rasanya memang tak ada jalan lain bagi Nawang Wulan, selain menerima uluran tangan pemuda itu. Maka akhirnya Dewi Nawang Wulan mengikuti Jaka Tarub untuk tinggal di rumah Nyi Janda Tarub.
Hari-hari berlalu Jaka Tarub pada akhirnya memperistri Dewi Nawang Wulan. Dan tidak sampai berjalan satu tahun Dewi Nawang Wulan melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Nawangsih.
Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan hidup dengan bahagia. Tetapi justru pada suatu hari terjadi peristiwa yang merupakan sebuah permulaan malapetaka.
“Kakang Jaka, aku sedang menanak nasi tolong kau jaga. Nawangsih buang air, aku akan membersihkannya ke sungai. Dan jangan kau buka tutup kukusan itu!” kata Nawang Wulan berpesan kepada suaminya, yang kemudian melangkah menuju sungai. Sepeninggal istrinya, Jaka Tarub sedikit terheran dengan pesan itu. Rasa herannya menjadi rasa ingin tahu. Perlahan-lahan dibukanya tutup kukusan itu. Alangkah terkejutnya Jaka Tarub ketika mengetahui isi dalam kukusan itu, ternyata setangkai padi.
Jaka Tarub terus diliputi rasa keheranan. Selama ini padi di lumbungnya memang seperti tak pernah berkurang. Mungkin itu sebuah ilmu yang dibawa istrinya dari kahyangan. Menanak setangkai padi, cukup dimakan untuk satu keluarga, pikir Jaka Tarub.
Setelah kembali dari sungai, Dewi Nawang Wulan tahu bahwa suaminya telah membuka tutup kukusan itu, ia menjadi terkejut dan marah. Ia menyesali atas kelancangan suaminya, yang telah melanggar pesannya untuk tidak membuka tutup kukusan itu hingga kesaktiannya musnah.
“Sekarang aku harus bekerja keras ..... ! Aku harus menumbuk padi! Untuk itu kau harus buatkan aku peralatan guna menumbuk padi .... “ kata Dewi Nawang Wulan dengan lesu.
Sejak saat itu, Dewi Nawang Wulan harus menumbuk padi dan menampinya. Jaka Tarub menyesal karena kelancangannya itu istrinya harus bekerja keras.
Karena setiap hari harus ditumbuknya, maka padi dalam lumbung yang biasanya tidak habis dimakan dalam masa sekian belas panen, kini tentu saja cepat menjadi susut. Dan pada suatu hari, ketika Dewi Nawang Wulan mengambil padi dalam lumbung, pandangannya menatap sebuah benda. Benda itu diambilnya dan alangkah terkejutnya ketika ia mengetahui benda itu.
“Oh, pakaian! Ini pakaianku yang hilang ketika aku mandi di telaga dalam rimba itu dulu .... apa kakang Jaka yang mengambilnya? Tapi kenapa ia pura-pura tak tahu?”
Dewi Nawang Wulan segera mengenakan pakaian itu. Yang memang pas di tubuhnya.
Sementara itu Jaka Tarub terheran-heran, kenapa istrinya demikian lama berada di lumbung padi. Dan lebih heran lagi ketika Dewi Nawang Wuan muncul dengan wujud lain. Wujud seorang bidadari!
“Kakang Jaka .... aku mohon pamit akan kembali ke kahyangan!” kata Dewi Nawang Wulan tiba-tiba. Jaka Tarub menatap istrinya dengan pandangan kosong. Ia menyadari apa yang telah terjadi.
“Dewi .... tunggu dulu? Memang aku salah ...., tapi kuminta maafmu! Lagi pula kau harus ingat akan anak kita!”
Kau telah menipuku sekian lama, Kakang! Apa kira kakang akan dapat berbuat demikian selamanya? Aku memang tak sampai hati meninggalkan Nawangsih. Tapi ... aku terpaksa,” Dewi Nawang Wulan menunduk lesu.” Namun demikian, aku akan tetap menjalankan kuwajibanku, Kakang .... anak itu masih belum lepas menyusu padaku, maka setiap malam aku akan datang. Kau buatkan dangau dekat pondok kita ini dan taruhlah Nawangsih disana, setiap malam aku akan datang untuk menyusuinya ...... dan harus kau ingat pula, selama aku menyusui kau tak boleh mendekati dangau itu!”
“Oh, Nawang Wulan! Apa hal ini tak dapat dibicarakan dengan baik-baik?” Jaka Tarub mencoba menahan istrinya. Dewi Nawang Wulan hanya menggelengkan kepala, ia mengambil Nawangsih yang dalam gendongan Jaka Tarub. Diciumi anak itu dengan berurai air mata.
“Tidak, Kakang ..... kodratku adalah sebagai bidadari dan aku harus kembali ke kahyangan.”
Dengan hati teriris Jaka Tarub menyaksikan istrinya terbang ke angkasa. Dewi Nawang Wulan melambaikan tangannya sampai hilang di balik awan.
Setelah kejadian itu, Jaka Tarub segera memenuhi permintaan istrinya untuk mendirikan dangau dekat pondoknya. Dan semenjak itu setiap malam dia melihat Dewi Nawang Wulan datang menyusui anaknya dan bercengkerama sampai anak itu tertidur.
Demikianlah kisah Jaka Tarub dan Dewi Nawang wulan. Ada versi lain dari kisah ini yang menceritakan bahwa Dewi Nawang Wulan tidak diterima menetap di kahyangan sebagai seorang bidadari, karena sudah menikah dengan manusia dan melahirkan bayi manusia, maka ia sudah dianggap menjadi manusia. Dia kemudian disuruh pergi dan supaya menempati lautan sebelah selatan tanah Jawa. Dewi Nawang Wulan menjelma jadi Nyai Rara Kidul. Sampai saat ini, kesaktian Nyai Rara Kidul sebagai ratu penguasa lautan Selatan masih dipercayai orang.
Dan Dewi Nawangsih setelah dewasa akhirnya menikah dengan seorang bernama Lembu Peteng atau Bondan Kejawan putra raja Brawijaya dari Majapahit.

2 komentar:

  1. Wah bagus nih gan ... tambah lagi dong crita2 lainnya, jadi Qta bs tahu lebih banyak.

    BalasHapus